SINERGI ANTARA AKADEMIK DAN ORGANISASI DI PERKULIAHAN
Departemen
Penelitian dan Pengembangan HIMANISLIK FISIP UNMUL kembali menghadirkan
kegiatan INSPIRASI (Inovasi Sesi Pembelajaran dan Ilmu Administrasi Publik)
dengan tema “Sinergi Antara Akademik dan Organisasi di Perkuliahan”,
pada Sabtu, 4 Oktober 2025, bertempat di Ruang Kelas 14 Gedung D8 FISIP
Universitas Mulawarman.
Kegiatan ini
menghadirkan Dewi Risnawati, M.A.P., dosen Administrasi Publik FISIP UNMUL,
yang juga merupakan alumni FISIP jurusan Ilmu Pemerintahan. Dipandu oleh Cheria
Putri Ramadhani H. sebagai moderator dan MC, sesi berlangsung interaktif dan
penuh antusiasme dari para mahasiswa Administrasi Publik.
Dalam
pemaparannya, Bu Dewi berbagi pengalaman tentang bagaimana organisasi dan
akademik dapat berjalan beriringan. Menurutnya, organisasi bukan sekadar
kegiatan tambahan, melainkan ruang pembelajaran yang melatih kemampuan berpikir
kritis, adaptif, dan berorientasi pada solusi.
“Organisasi adalah
ruang belajar nyata. Anak organisasi terbiasa menghadapi situasi tak terduga,
mengambil keputusan, dan beradaptasi cepat. Nilai-nilai itu menjadi daya jual
saat kita memasuki dunia profesional,” jelas Bu Dewi.
Beliau juga
menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai role model, terutama bagi yang
aktif berorganisasi. Menurutnya, mahasiswa yang mengenakan atribut himpunan
bukan hanya membawa nama pribadi, tetapi juga identitas lembaga yang harus
dijaga.
“Biasakan aktif,
apalagi ketika memakai atribut hima. Itu bentuk tanggung jawab dan identitas.
Di situ kita belajar jadi role model, memberi contoh lewat sikap, bukan
hanya ucapan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bu
Dewi menyoroti pentingnya memiliki strategi dan manajemen waktu agar mahasiswa
tidak merasa kewalahan menjalani aktivitas akademik dan organisasi secara
bersamaan.
“Kalau mulai
keteteran, tulis apa yang mau dikerjakan hari ini. Gunakan kalender, atur
jamnya. Kalau sudah terbiasa terstruktur, kita juga akan terbiasa disiplin,”
jelasnya.
Ia menambahkan
bahwa mahasiswa perlu menentukan prioritas dan berani berkata ‘tidak’ pada
hal-hal yang tidak mendukung tujuan utama.
“Tuliskan
prioritas. Urutkan dari yang paling sulit agar bisa dikerjakan lebih dulu.
Jangan biasakan bekerja tanpa jadwal. Kalau kita punya banyak kegiatan, belajar
menolak juga penting, supaya kegiatan kita tidak berangkat dari keikutsertaan
semata, tapi dari kesadaran dan tanggung jawab,” tambahnya dengan nada hangat.
Selain itu, Bu
Dewi membahas mengenai munculnya berbagai komunitas tematik. Meski demikian,
beliau menilai bahwa himpunan masih memiliki peran strategis sebagai wadah
pengembangan kapasitas dan identitas mahasiswa di tingkat jurusan.
“Komunitas memang
lebih fokus, tapi himpunan memberi ruang lebih luas untuk memahami peran kita
sebagai bagian dari akademik dan civitas kampus,” tutur Bu Dewi.
Beliau juga
menyoroti pentingnya arah pengkaderan yang mampu menumbuhkan rasa kepemilikan
dan kebersamaan. Menurutnya, kader yang memiliki ikatan emosional dengan
himpunan akan lebih bertahan dan aktif berkontribusi.
“Pengkaderan itu
bukan hanya soal tahapan kegiatan, tapi bagaimana menumbuhkan jiwa memiliki.
Kalau kader merasa himpunan ini rumahnya, mereka akan tumbuh bersama dan ingin
menjaga,” ungkapnya.
Himpunan,
lanjutnya, perlu menjadi wadah yang benar-benar menjawab kebutuhan mahasiswa,
bukan sekadar menyelenggarakan kegiatan seremonial.
“Himpunan bisa
membuat studi kecil yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa, misalnya membantu
penulisan, memfasilitasi minat dan bakat. Kalau itu dilakukan, mahasiswa akan
sadar, ‘oh ternyata himpunan bisa begini,’ dan di situ letak daya tariknya,”
tegas Bu Dewi.
Organisasi
mahasiswa diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan ritme mahasiswa saat ini,
termasuk mencari waktu kegiatan yang sesuai agar mahasiswa baru semakin
tertarik dan ingin terlibat aktif. Kegiatan yang responsif terhadap kebutuhan
dan waktu mahasiswa akan memperkuat rasa memiliki, sekaligus membuka ruang bagi
munculnya kader-kader yang berkomitmen.
Dalam sesi
diskusi, peserta turut menanyakan berbagai pertanyaan, seperti pandangannya
terhadap peran mahasiswa yang telah melewati masa keaktifan. Beliau menegaskan
bahwa setiap generasi memiliki kontribusinya masing-masing, dan keberlanjutan
organisasi bergantung pada kesadaran bersama untuk berbagi peran serta menjaga
nilai-nilai perjuangan mahasiswa.

Komentar
Posting Komentar